Indonesia Selamat, Sederet Negara Ini Ambruk Gegara Utang
Jakarta - Bank
Sentral Inggris (Bank of England/BoE) dan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal
Reserve/The Fed) kompak menaikkan suku bunga acuan mereka. Bank Sentral Eropa
atau European Central Bank (ECB) juga sudah memutuskan akan menaikkan suku
bunga acuan pada bulan depan.
Hal ini sangat berdampak besar terhadap negara
dengan prospek ekonomi buruk. Sebab, negara-negara tersebut akan ditinggal
investor sehingga kesulitan memperoleh pembiayaan dan meredam depresiasi nilai
tukar.
Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan kebijakan moneter ketat
akan makin dianut banyak negara. Oleh karena itu, mereka mewanti-wanti jika
ongkos pinjaman akan naik dan pertumbuhan ekonomi bisa melemah.
Bank Dunia dalam laporan terbarunya Global Economic Prospects juga mengingatkan hal yang sama. Kenaikan suku bunga acuan dan tingginya inflasi akan membuat sejumlah negara berjuang keras menahan arus modal keluar.
Kepala ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan negara dengan laju inflasi tinggi, defisit transaksi berjalan besar, dan pertumbuhan ekonomi rendah akan ditinggal investor asing di tengah tren suku bunga global yang tinggi.
Andry menyebut sejumlah negara termasuk
Kolombia, dan Brazil. Negara-negara di kawasan Eropa juga tidak lepas dari
ancaman tersebut, seperti Hungaria, Polandia, dan Rumania.
"Semua negara itu kenaikan bond yield-nya
relatif tinggi dibanding peers karena asumsinya asing banyak net sell,"
tutur Andry kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (25/6/2022).
Seperti diketahui, inflasi Turki melesat
hingga 73,5% (year on year/yoy) pada Mei tahun ini, atau mencatatkan rekor
tertinggi sejak Oktober 1998. Turki juga selalu mencatat defisit transaksi
berjalan sejak 2012, kecuali pada tahun 2019.
Pertumbuhan ekonomi mereka melemah menjadi
1,2% (yoy) pada kuartal I-2022 dari 1,5% pada kuartal sebelumnya.
Bank Dunia bahkan meramal pertumbuhan Turki
akan anjlok dari 11% pada 2021 menjadi 2,3% pada tahun ini.
Dalam laporannya, Bank Dunia mengingatkan
negara yang berstatus importir komoditas akan menghadapi goncangan dalam utang
jangka pendek dan derasnya outflow, terutama di pasar saham.
Sebaliknya, negara dengan ekspor komoditas
dalam jumlah besar seperti Indonesia akan memiliki kemampuan meredam gejolak
eksternal lebih baik.
"Lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga, beban utang besar, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat akan membuat pasar keuangan sejumlah negara tertekan," tulis Bank Dunia.
Bank Dunia mengatakan tidak ada kawasan yang
bebas dari risiko outflow. Menurut mereka, sebagian besar negara emerging
market dan berkembang akan mengalami capital outflow dalam jumlah besar yang
membuat otoritas fiskal mempercepat langkah pengetatan fiskal.
Pengetatan kebijakan moneter negara-negara
maju juga akan membuat kawasan Asia Tenggara dan Pasifik berjuang keras menahan
outflow.
"Negara-negara yang mengandalkan modal
asing jangka pendek seperti Mongolia dan Dailan akan terimbas sangat
besar," tulis Bank Dunia.
Rasio utang pemerintah dan swasta yang
melonjak sejak 2019 juga menjadi persoalan bagi negara seperti Fiji, Laos, dan
Mongolia. Utang yang besar membuat mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan
pembiayaan saat investor asing kabur.
Rasio utang pemerintah dan swasta Fiji
terhadap PDB mencapai 80% sementara Laos dan Mongolia yang memiliki rasio utang
60% terhadap PDB juga tidak akan mengalami hal serupa.mencapai 60%.
Bank Dunia juga menyoroti kemampuan Nepal,
Pakistan, dan Sri Lanka dalam meredam capital outflow seiring besarnya utang
dan buruknya prospek ekonomi mereka. Negara tersebut kini berjuang dengan
lonjakan yield surat utang, inflasi, dan depresiasi mata uang.
"Lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga,
beban utang besar, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat akan membuat pasar
keuangan sejumlah negara tertekan," tulis Bank Dunia.
Bank Dunia mengatakan tidak ada kawasan yang bebas dari risiko outflow. Menurut mereka, sebagian besar negara emerging market dan berkembang akan mengalami capital outflow dalam jumlah besar yang membuat otoritas fiskal mempercepat langkah pengetatan fiskal.
Pengetatan kebijakan moneter negara-negara maju juga akan membuat kawasan Asia Tenggara dan Pasifik berjuang keras menahan outflow. "Negara-negara yang mengandalkan modal asing jangka pendek seperti Mongolia dan Dailan akan terimbas sangat besar," tulis Bank Dunia.

Komentar
Posting Komentar